Senin, 20 Juli 2020

Drama Putus Dibilang Matre - Throwback

Sekitar tujuh hari lagi, tepat 7 tahun putusnya hubunganku dengan seseorang yang pernah disebut pacar. Pacar terakhir karena setelah itu aku memutuskan untuk sendiri. Walau ya ada aja selingan people come and go seperti jailangkung. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Eh lebih tepatnya datang tak dijemput pulang tak bilang-bilang. Panggil saja tukang PHP bukan HTML dan tak pakai MySQL. Kayak sendirinya tak PHP saja.

Eh ya, kenapa aku masih ingat kapan hubungan kami berakhir. Mungkin ada yang berpikir aku belum move on. Tolong enyahkan pikiran itu darimu. Dianya saja sudah menikah tahun lalu. Aku ingat kapan kami putus, lebih tepatnya aku minta putus karena di bulan Juli tahun 2013 itu aku sedang persiapan sidang Tugas Akhir dan setelahnya repot dengan revisi. Ditambah saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dianya drama.

drama putus dibilang matre sama mantan

Dia tentu saja bukan satu-satunya mantan yang drama saat aku ingin putus. Aku pernah melewati drama putus juga saat masih duduk dibangku SMK. Bedanya yang kali ini mengata-ngatai kalau aku matre. Dia bilang kalau aku minta putus karena mau mencari cowok yang kaya raya. Tidak seperti dia yang biasa saja. Ini membuat kumenangis membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku karena betapa kejamnya fitnahmu atas diriku. Lha iya emang ada cowok kaya raya yang mau sama cewek eh perempuan missqueen dan cantiknya biasa saja di mata manusia seperti aku.

Sebelum Putus


Senang rasanya ada yang menyemangati untuk menyelesaikan Aplikasi yang kubuat untuk Tugas Akhir selain dari keluarga. Sebut saja Dia. Dia yang tiba-tiba hadir di saat aku sedang galau-galaunya. Walaupun dia hanya mengutarakan perasaan dan menanyakan apakah aku mau jadi pacarnya melalui sambungan telepon. Iya, dia di Jakarta, aku di Bandung.

Terus kenapa aku mengiyakan untuk berstatus berpacaran dengannya. Karena tentu saja ku pernah mengenal dia semasa sekolah, lebih tepatnya sejak aku pernah berstatus pacar dari temannya di kelas. Dia yang kukenal sebagai cowok baik, dewasa dan juga selera humor kita yang nyambung satu sama lain. Lagipula ketika ku sedang galau, terkadang aku tak berpikir jernih.

Dia Tak Mau Mendengar


Semua normal pada awalnya. Aku bahagia sudah jelas iya. Namun, semakin hari, intensitas dia mengirimiku pesan dan juga panggilan telepon mulai mengganggu. Apalagi saat aku sedang mengerjakan revisi aplikasi dan juga laporan. Rasanya membuatku emosi jiwa.

"Lama banget angkat teleponnya!"

"Kan aku udah bilang, aku lagi revisi, besok harus ke kampus lagi ngasihin hasil revisinya ke dosen!"

"Kan sidangnya udah, kamu jangan banyak alesan!"

"Aku ..."

Aku mau bicara eh telepon diputuskan olehnya. Ceritanya dia ngambek. Terus aku berusaha nenangin dia? Tidak malam itu karena ku harus menyelesaikan tugasku. Aku benar-benar tak peduli. Kalau kata pamungkasnya cewek-cewek itu "TERSERAH!" Yang penting aku besok harus bawa hasil revisi aplikasinya ke dosen penguji.

Besoknya Baikan


Dengan mata yang masih mengantuk dan kepala yang pusing, aku berangkat subuh dari rumah untuk mengejar jadwal kereta jam 6 pagi. Saat di perjalanan tahu-tahu dia kirim pesan lagi. Dia tak minta maaf, cuma bilang selamat pagi dan bertanya apakah aku jadi ke kampus atau tidak. Aku balaslah sambil minta maaf. Anggap saja aku yang salah, aku yang banyak alasan. Kita baikan. Aku tenang.

Tapi,

Sebentar saja.

Siangnya dia mulai lagi. Bertanya apakah aku sudah pulang. Terus saat kujawab belum karena belum selesai dan sekaligus nanti sore mau buka bersama sama teman sekelas. Dia nanya lagi sama siapa. Aku ngotot jawab teman sekelas. Lalu dia balas lagi : "Iya, teman sekelasnya siapa aja?"

What the ... aku sebutin nama teman-temanku satu persatu. Baru dia puas.

Sorenya, saat adzan maghrib baru saja berkumandang dia bertanya. "Udah selesai bukbernya?"

Yang mana membuatku ingin membanting ponsel. Baru adzan, baca doa buka puasa saja belum, sudah ditanya selesai. Saat kubalas dia bertanya lagi buka bersamanya sama siapa. Bagaikan memutar kaset kusut yang kusut banget. Bolak-balik.

Disuruh Pulang


Ada rasa kesal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata setelah itu. Apalagi saat kubilang mau foto studio dulu. Aku disuruh pulang, katanya aku perempuan, tidak baik pulang malam-malam. Padahal baru jam 7 malam. Aku bahkan sudah bilang memang mau menginap di kostan teman. Tapi tetap saja, dia tak mau mengerti, tak mau mendengar.

Jam 9 malam, saat aku sampai di kostan teman, dia kekeuh mau nelpon. Kan aku merasa tak enak dengan teman, apalagi sudah jam 9. Kalau ganggu penghuni kost lain dan ibu kostnya menegur gara-gara aku telponan kan tak lucu. Aku bilang aku tak bisa. Dia ngambek lagi.

Paginya, setelah berpikir panjang semalaman atas ketidaknyamanku dengan cara dia memerhatikan aku. Entahlah aku merasa dia terlalu overprotective dan tidak percaya pada diriku dengan jarak antara Bandung dan Jakarta ini.

Aku minta putus melalui pesan singkat. Kuutarakan rasa ketidaknyamananku yang semakin hari semakin bertambah. Aku tak bisa jika harus selalu membalas pesan dan mengangkat teleponnya setiap waktu. Heran sih, padahal dia pun posisinya kerja. Dan kalau dia benar-benar sayang, harusnya dia punya lebih banyak pemakluman.

Dia Bilang Aku Matre


Dia tak terima untuk putus, dan seperti yang sudah kubahas di awal, dia sempat mengatakan kalau aku matre. Helooow? Matre sebelah mananya. Dia belum pernah memberikan apa-apa, aku pun tidak meminta apa-apa darinya. Aku cuma tak tahan diberondongi terus pertanyaan. Dilarang-larang. Aku butuh ruang untuk diriku sendiri, aku butuh spasi, jarak, butuh dipercaya.

Karena dia tak mau mendengar, dan tak terima. Aku kirim lagi alasan kenapa aku minta putus lewat facebook messenger. Debatlah kita di sana. Aku dibilang PHP, dan sebagainya. 2 hari kemudian, dia malah kirim pesan lagi di sana dan manggil sayang. Tak kutanggapi sampai dia mengancam akan cari pacar baru untuk dimainkan perasaannya seperti aku yang dianggap memainkan perasaannya.

Aku jadi merasa bersalah dong. Terus memohon ke dia jangan begitu, dia kalau benci ya benci aku saja. Kita debat dan tak ketemu titik temunya. Kuanggap ya sudahlah. Aku baru kirim pesan minta maaf lagi saat lebaran. Dia balas dan balik minta maaf atas sikapnya.

Menyeret Orang Lain


Beberapa hari kemudian dia mengubah statusnya jadi berpacaran dengan ... dengan mantannya terdahulu. Kalau dihitung, kita baru putus sekitar 20 harian. Kumengucapkan selamat dan berharap hubungan mereka langgeng.

Dia balas sama-sama tapi ditambahkan kalimat yang nyerempet ke nama seseorang. People i can't have sejak tahun 2010. Sejak kuputus dengan temannya Dia dan sering memerhatikan seseorang itu di kelas bahasa Jepang. Dia bahas soal boneka hello kitty. Mungkin karena aku mengubah foto profil yang pegang boneka hello kitty.

Intinya dia bilang konyol ngirim boneka dari Jepang. Ongkos kirimnya mahal. Aku. Tentu saja memberikan pembelaan. Itu tak konyol, aku acungi dua jempol buat seseorang itu. Dalam hati ingin bilang : seseorang yang mengirimkan sesuatu yang ku suka, dari jauh saja tak pernah mengatakan aku matre. Setidaknya aku tak pernah mendengar seseorang itu mengatakan matre. Tapi ya tak jadi, malas debat lagi. Aku dengan hidupku, Dia dengan hidupnya sajalah pada akhirnya.

Sekarang?

Antara aku dan dia sudah baik-baik saja seperti tak pernah terjadi status berpacaran dan drama putus di tahun 2013 itu.